Senin, 28 Oktober 2013

Geng Motor



Polisi didesak tangkap geng motor di Bandung yang tikam Julius


Polisi didesak tangkap geng motor di Bandung yang tikam Julius

Merdeka.com - Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) angkat bicara terkait aksi brutal yang menelan korban anak didiknya di Bandung Senin (7/10) lalu. Mahasiswa Teknik Geofisika ITB, Julius Timothy (20) harus mengalami luka di kepala, tangan dan badannya karena ditikam oleh senjata tajam oleh sekelompok orang di Jalan Cikutra Bandung.

Kepolisian pun didesak untuk segera menangkap pelaku sebelum menelan korban-korban lainnya. "Untuk korban Julius ini memang termasuk kategori yang parah, korban mahasiswa yang kita tahu ini sampai saat ini jumlahnya sudah 5 orang, sebelum ada korban lain, polisi harus segera menangkap pelaku," kata Wakil Rektor Bidang Komunikasi Kemitraan dan Alumni ITB, Hasanudin Z. Abidin, dalam jumpa persnya di kampus ITB Bandung, Selasa (22/10).

Dia menyadari aksi brutal geng motor kembali menggaung setelah sempat adanya deklarasi pembubaran sejak 2010 lalu. Kini kembali marak, sehingga ia meminta kepada polisi untuk bisa mengungkap.

"Kejadian bukan hanya mengganggu ITB tapi publik. Ini mengganggu ketenangan. Ini dilakukan secara sporadis dan secara tiba-tiba, kita harus cari akar masalahnya di mana," ucapnya.

Dosen Wali Julius, Susanti Alwiah, mengaku kecewa ketika kasusnya tidak ada perkembangan signifikan dari kepolisian. "Julius sudah divisum, dan terakhir mendapat kabar sudah ada terdeteksi satu orang, orang ini adalah yang bawa linggis, jadi pencariannya baru sampai di situ. Kita ingin pelaku ditangkap," terangnya.

Julius yang merupakan anak dari perwira TNI AL ini menurut dia belum bersedia dimintai keterangan kembali pasalnya masih mengalami trauma berat. "Polisi juga akan melakukan langkah-langkah, seperti wawancara, karena korban harus dimintai keterangan," ungkapnya.

Kondisi Julius kini memang berangsur membaik. Saat kejadian Julius mendapatkan empat luka tikaman di bagian kepala, satu di leher, tangan dan punggung.

Selain itu, kata dia, Julius juga mengalami cedera tendon putus dan tulang lengan bawah yang terkikis karena mencoba menangkis dengan tangan. Motor Honda CBR 150 pun berhasil digondol pelaku yang diperkirakan berjumlah 12 orang.

Opini :  Menurut Saya Tindakan geng motor sangat meresahkan masyrakat Bandung, karena mereka selalu melakukan tindakan yang Brutal, Pihak Kepolisian harus bertindak tegas supaya anggota geng motor harus diberantas sampai akar akarnya.

Sumber Berita : http://www.merdeka.com/peristiwa/polisi-didesak-tangkap-geng-motor-di-bandung-yang-tikam-julius.html

Minggu, 29 September 2013


Masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antara unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.
Masalah sosial muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Yang dapat menjadi sumber masalah sosial yaitu seperti proses sosial dan bencana alam. Adanya masalah sosial dalam masyarakat ditetapkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan khusus seperti tokoh masyarakat, pemerintah, organisasi sosial, musyawarah masyarakat, dan lain sebagainya.
Masalah sosial dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) jenis faktor, yakni antara lain :
1. Faktor Ekonomi       :  Kemiskinan, pengangguran, dll.
2. Faktor Budaya         : Perceraian, kenakalan remaja, dll.
3. Faktor Biologis        : Penyakit menular, keracunan makanan, dsb.
4. Faktor Psikologis     : penyakit syaraf, aliran sesat, dsb.
            Di Indonesia sendiri terjadi banyak masalah social yang tidak kunjung terselesaikan, salah satunya adalah masalah kemiskinan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk miskin di Indonesia tahun 1996 masih sangat tinggi, yaitu sebesar 17,5 persen atau 34,5 juta orang. Hal ini bertolak belakang dengan pandangan banyak ekonom yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan pada akhirnya mengurangi penduduk miskin.
Perhatian pemerintah terhadap pengentasan kemiskinan pada pemerintahan reformasi terlihat lebih besar lagi setelah terjadinya krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997. Meskipun demikian, berdasarkan penghitungan BPS, persentase penduduk miskin di Indonesia sampai tahun 2003 masih tetap tinggi, sebesar 17,4 persen, dengan jumlah penduduk yang lebih besar, yaitu 37,4 juta orang.
Bahkan, berdasarkan angka Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada tahun 2001, persentase keluarga miskin (keluarga prasejahtera dan sejahtera I) pada 2001 mencapai 52,07 persen, atau lebih dari separuh jumlah keluarga di Indonesia. Angka- angka ini mengindikasikan bahwa program-program penanggulangan kemiskinan selama ini belum berhasil mengatasi masalah kemiskinan di Indonesia.  
Pada dasarnya ada dua faktor penting yang dapat menyebabkan kegagalan program penanggulangan kemiskinan di Indonesia. Pertama, program- program penanggulangan kemiskinan selama ini cenderung berfokus pada upaya penyaluran bantuan sosial untuk orang miskin.Hal itu, antara lain, berupa beras untuk rakyat miskin dan program jaring pengaman sosial (JPS) untuk orang miskin. Upaya seperti ini akan sulit menyelesaikan persoalan kemiskinan yang ada karena sifat bantuan tidaklah untuk pemberdayaan, bahkan dapat menimbulkan ketergantungan.
Program-program bantuan yang berorientasi pada kedermawanan pemerintah ini justru dapat memperburuk moral dan perilaku masyarakat miskin. Program bantuan untuk orang miskin seharusnya lebih difokuskan untuk menumbuhkan budaya ekonomi produktif dan mampu membebaskan ketergantungan penduduk yang bersifat permanen. Di lain pihak, program-program bantuan sosial ini juga dapat menimbulkan korupsi dalam penyalurannya. Hal ini lah yang menjadi penyebab lambannya pengetasan kemiskinan di Indonesia.

http://abdulmuchyi13.blogspot.com/2011/12/masalah-masalah-sosial-di-indonesia.html